AKU Sangat merindukan masa laluku yang begitu Bebas kemana aku suka...
Anang Nor Chozin
Minggu, 27 Maret 2016
Jumat, 25 Maret 2016
Hijrah menjadi lebih baik
Semua sudah berbeda, semua tidak seperti dulu lagi, kehidupanku sekarang sudah berbeda, Semua ini kulakukan demi masa depanku agar lebih baik lagi. Memang sulit menghadapi kenyataan hidup, Namun aku sadar kita hidup di dunia yang nyata jadi apapun yang terjadi di dunia harus kita hadapi.
Kamis, 25 Juni 2015
alasan melakukan pembegalan serta kekerasan
NAMA : ANANG NOR CHOZIN
NPM : 130200 01
PRODI : BIMBINGAN DAN KONSELING
Alasan Para Pembegal Remaja Berani Melakukan Kekejaman
Tri Wahyuni, CNN Indonesia
Kamis, 26/03/2015 09:20 WIB
Para pelaku begal yang diamankan petugas (Detikcom/Lamhot Aritonang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maraknya aksi begal yang terjadi belakangan ini membuat masyarakat ketakutan dan semakin waspada. Pasalnya, mereka tak hanya merampas harta, tapi juga sampai menghabisi nyawa.
Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata banyak di antara pelaku kejahatan itu yang terdiri dari kelompok remaja. Mereka pun tak segan melukai korban setelah menguras hartanya. Bahkan ada yang berani menebas tangan.
Psikolog, Elizabeth Santosa mengatakan beberapa waktu lalu terungkap bahwa pelaku begal ini adalah para pecandu narkoba. "Ada indikasi bahwa pelaku begal kecanduan narkoba," kata Elizabeth dalam acara peluncuran bukunya berjudul Raising Children In Digital Era, di kawasan Matraman, Jakarta Pusat.
Mereka pun melakukan aksi begalnya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi narkoba. "Mereka diminta untuk merampas motor. Motornya dijual ke penadah seharga Rp 500 ribu,” ujar Elizabeth. "Uangnya untuk beli narkoba," katanya menambahkan.
Ia juga menyampaikan, pecandu narkoba bisa melakukan cara apapun untuk mendapatkan uang dan bisa menikmati obat terlarang kesukaan mereka itu.
Salah satu penyebab dengan gampangnya mereka melakukan tindakan kekerasan disebabkan oleh ekspos terhadap media dan internet. Banyaknya game online yang menampilkan kekerasan dianggap menjadi salah satu penyebab.
Belum lagi tayangan kartun yang ternyata di dalamnya terdapat aksi kekerasan dan saling membunuh. "Yang seperti ini justru ratingnya tinggi, kan," kata Elizabeth. Bahkan sinetron remaja pun mulai banyak menampilkan adegan kekerasan.
Seperti narkoba memengaruhi otak, dan pornografi memengaruhi otak, kekerasan pun melakukan hal yang sama pada otak. Ketika seorang remaja bisa mengalahkan musuhnya di game online timbul sebuah kepuasan dan rasa percaya diri. Mereka menganggap diri mereka jagoan.
Disitulah mereka memperoleh kesenangan. Momen itu kemudian direkam oleh otak dan saat anak membutuhkan kepuasan itu lagi mereka pun akan melakukannya lagi. Dan membuat orang di dunia nyata bertekuk lutut, juga pasti lebih menyenangkan lagi.
Elizabeth mengatakan, saat mereka mempraktikkan kekerasan yang mereka lihat di game online atau di televisi, mereka sudah di luar kontrol. Ketika mereka tak bisa mengontrol tindakan lagi, sesungguhnya kekerasan itu sudah mendarah daging dalam diri mereka.
TEORI
Teori Belajar Gestalt berlaku untuk semua aspek pembelajaran manusia, meskipun berlaku paling langsung ke persepsi dan pemecahan masalah. Pekerjaan Gibson sangat dipengaruhi oleh teori Gestalt. Beberapa contoh dari teori gestalt dapat dilihat dari aplikasinya dalam pembelajaran.
Akhmad Sudrajat menguraikan beberapa Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
ANALISIS
Saat ini begal sangat hangat sekali diperbincangkan di media media , baik di media TV, radio , Koran , di Internet , dan lain-lain , yang lenbih miris dan ironisnya kebanyakan begal saat ini banyak di temui para remaja –remaja bahkan mereka masih duduk di bangku SMA/SMK bahkan masih duduk dibangku SMP ! menurut info dari berita di atas ternyata mereka melakukan hal yang melenceng/ begal terebut Karena untuk memenuhi kebutuhan mereka ( mengkonsumsi obat-obatan terlarang , seperti sabu-sabu , narkoba, ekstasi dan lain-lain ) sebagian uang dari hasil rampokan mereka untuk menebus motor mereka yang sudah di jual di penadah. Dan mengapa mereka tega melakukan kekerasan seperti melukai /menyakiti karena mereka sudah dipengaruhi oleh obat – obatan terlarang karena untuk mendapatkan obat-obatan tersebut mereka rela melakukan apapun demi untuk mendapatkan obat-obatan tersebut.
KOMENTAR
Saat ini begal sudah sangat merajalela baik di perkotaan besar maupun didesa, dan yang sangat berperan aktif dalam melakukan begal ini bukan saja orang orang yang sudah dewasa bahkan banyak sekali remaja-remaja yang melakukan hal itu (begal) kenapa hal itu terjadi ? apakah ada kesalahan dalam pendidikan ? apakah memang dari remaja tersebut yang mempunyai cita – cita ingin menjadi seorang begal ? saya rasa tidak , hal tersebut pasti ada beberapa factor yang mempengaruhi remaja kita untuk melakukan hal yang sangat menyimpang. Adapun factor –factornya adalah :
- Pola hidup serba ingin cepat dan mudah inilah yang membuat anak menggunakan cara-cara pintas untuk mendapatkan keinginannya. Bahkan menurut Susanto, kondisi ekonomi sebuah keluarga tidak selalu menjadi pemicu tindak kejahatan oleh anak.
- dampak dari bullying juga berpengaruh," kata dia. Menurutnya berdasarkan survei yang dilakukan KPAI tahun 2014 hampir setiap sekolah melakukan bullying. Dan bahkan 87 persen menunjukkan adanya kekerasan dalam kegiatan sekolah. "Kalau ini terus menggejala bisa-bisa anak imun terhadap kekerasan," kata dia.
- Faktor terakhir yang memicu anak-anak melakukan tindak kejahatan begal menurut Susanto adalah keberadaan tontotan maupoun permainan video games yang menunjukkan tindak kekerasan. "Kalaupun anak tidak menjadi pelaku kekerasa, mereka cenderung membiarkan terjadinya kekerasan di lingkungan," ujar Susanto.
Selasa, 05 Maret 2013
Jumat, 22 Februari 2013
Langganan:
Postingan (Atom)





